Text
Better With You
Perempuan berkepang satu dengan anak rambut yang lari dari ikatan itu, duduk sendirian di salah satu sudut study lounge SMA Bina Bakti. Terdapat barisan meja dan kursi kayu ditanam ke paving conblock serta beberapa tanaman dalam pot terawat merapat ke sisi bangunan.
Dia membuka sebuah buku dan membuatnya dalam posisi berdiri. Dia sama sekali tidak terganggu oleh hiruk-pikuk siswa lain yang sedang berusaha menembus kerumunan di depan sebuah papan informasi, untuk membaca pengumuman pembagian kelas.
Seseorang pernah berkata kepadaku, memberi tahu orang lain soal perasaan kita itu sah-sah saja. Namun, mengapa aku selalu kesulitan untuk mengatakan perasaanku yang sesungguhnya? Kepada dia yang sehangat matahari. Yang mampu meluluhkan segala gundah di dalam hati.
Ada juga yang bilang, bila sembunyi-sembunyi gini, ia tidak akan pernah tahu perasaan yang kurasakan. Entah, mengapa rasa takut itu selalu ada? Padahal, ia selalu mengajarkanku untuk melawan rasa takut dan jujur pada diri sendiri. Namun, saat kita sudah merasa begitu nyaman di dekat orang yang kita sukai, apakah kita masih perlu mengungkapkan perasaan hati?
Tidak tersedia versi lain