Buku ini adalah kelanjutan dari karya Lukam Hakiem sebelumnya yang berjudul "Merawat Indonesia : Belajar dari Tokoh dan Peristiwa". Sebagai penulis yang dekat dan berinteraksi langsung dengan para pelaku sejarah, buku ini tentu sangat menarik. Kisah-kisah yang dituliskan sangat mengalir dan memotivasi para pembaca untuk bercermin dari para tokoh tersebut. Sebagai seorang aktivis dan jurnalis, p…
Aku dititipi perjuangan bersama engkau semua, anak-anak dan cucu-cucuku. Perjuangan yang meskipun engkau dikepung oleh kegelapan, tapi engkau tetap sanggup menerbitkan cahaya dari dalam dirimu. Meskipun terbata-bata di jalanan yang sangat terjal, engkau tetap mampu menata kuda-kuda langkahmu sehingga keterjalan jalan itu bergabung ke dalam harmoni tangguhnya langkah-langkahmu. Bahkan, sekalipu…
Sepanjang masa hidupmu, kelak kamu akan menemui buah simalakamamu sendiri. Namun, tahukah kamu buah simalakama yang rasanya paling getir? Yang kesakitannya bukan hanya dirasakan oleh dirimu saja, melainkan harus dipikul oleh jutaan orang di sekitarmu. Inilah simalakama itu: Ibu sebagai jelmaan alam, Bapak berwujud pemerintah, dan Rakyat yang menjadi anak-anaknya. Bapak yang kau pikir mengayom…
Buku ini merupakan kelanjutan dari Markesot Bertutur. Pertama kali diterbitkan Ikapi, Jakarta, tahun 1994. Pada tahun itu Kompas menulis, “Buku ini (Markesot Bertutur Lagi) mampu mengharu-biru perasaan pembacanya dengan humor, keseriusan, sikap kritis, kepolosan, kesedihan, dan kekaguman.” Cak Nun masih konsisten mengambil karakter Markesot sebagai individu yang menjelaskan realitas sosial …
Jika bahtera Nabi Nuh ada pada masa sekarang ini, apakah kita akan diajaknya ikut serta? Kalau Nabi Nuh mengulurkan tangannya untuk semua penduduk bumi pada abad 21 ini, mungkin kapal tersebut tidak akan pernah berhenti bergoyang. Tak pernah seimbang. Tak pernah tak limbung. Karena sesungguhnya, masing-masing penumpang tidak sedang menghayati jiwanya bersemayam di atas kapal Nabi Nuh, tetapi j…
Sebagai sebuah pengalaman empiris Cak Nun bertemu Soeharto untuk dibujuk “lengser”, buku ini menjawab persoalan samar-samar yang terjadi di lingkungan istana. Sidang pembaca dibukakan wawasannya terhadap tipu muslihat reformasi yang sesungguhnya tak jauh dari “transaksi kepentingan politik” semata. Cak Nun dalam bukunya ini menyodorkan alternatif wacana mengenai reformasi yang selama in…
Tanpa disadari, korupsi menjadi salah satu “sahabat” sehari-hari kita. Korupsi tak terasa korupsi karena milik bersama, dilakukan bersama, ditutupi dengan alibi-alibi bersama, ditaburi harum wewangian retorika dari berbagai sudut, sisi, dan disiplin. Korupsi menjadi kecenderungan sehari-hari. Menjadi “naluri alamiah” tradisi kebudayaan kita. Menjadi makanan pokok sehari-hari. Menjadi ca…
Apa yang ingin disampaikan Cak Nun melalui bukunya ini? Sebagai budayawan sekaligus pekerja sosial, Cak Nun ingin memberikan kado cinta kepada sesama manusia, sesama hamba Allah, dan sesama Bangsa Indonesia. Kado cinta akan menghapuskan nuansa kebencian, menyingkirkan prasangka dan fitnah. Dengan kado cinta memberikan pencerahan, silaturahmi, kemesraan budaya, empati masyarakat, peneguhan nasio…
Menyusuri kejayaan kaum muslimin di masa silam dan menumbuhkan kembali iman yang ada di dalam dada. Masih segar dalam ingatan kaum muslimin tentang sosok pahlawan kita kali ini, kehadirannya mampu menggoncangkan kaki-kaki kaum yang ingkar kepada Rabb semesta alam. Sepak terjangnya dikenal baik kawan maupun lawan. Di sepanjang sejarah, Shalahuddin Al-Ayyubi adalah pahlawan Islam yang harus ditel…
Sesungguhnya yang paling mengenal diri itu adalah diri sendiri. Prinsip ini dipegang betul oleh seorang Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Pujian serta kritikan pedas dari banyak orang dan media telah mewarnai aktivitas dakwah serta bisnis yang digagasnya. Kini saatnya Aa Gym mengasah pena untuk bercerita tentang apa dan bagaimana dirinya sebenarnya. Sebuah rekaman perjalanan hidup dengan nama qolbu…